Home > Articles

BRING ME HOME: USAHA PENGHENTIAN PEMBOROSAN MAKANAN

Case Study #7



Industri makanan di Indonesia begitu menjamur, pasti akan ada banyak resto yang siap menjadi mitra dan menjual makanan – yang hampir terbuang karena alasan kesegaran – dengan harga miring.

We give surplus food a second chance and find them a new home - in your belly, not the bin.” Kalimat ini begitu kuat dan representatif pada brand yang dibangun oleh Jane Kou, yaitu Bring Me Home.

Sejak merantau dan merintis karier di Australia – karena sebelumya ia tinggal di Macau – Jane merasa miris dengan industri makanan di Negeri Kangguru tersebut. Terlebih untuk dunia perhotelan yang rata-rata membuang 100 kg makanan setiap minggunya.

Fenomena di atas menjadi motivasi Jane untuk menghentikan pemborosan makanan diAustralia. Bagaimana tidak, apabila tidak dihentikan maka Australia akan membuang setidaknya 7,3 ton makanan setiap tahun.

Dengan tekad bulat, Jane mulai mengembangkan Bring Me Home, sebuah platform yang dapat menghubungkan pengguna pada para pedagang yang punya kelebihan makanan. Mungkin agar lebih mudah dibayangkan, aplikasi Bring Me Home ini sama dengan aplikasi pesan makanan yang ada di Indonesia: Grab Food atau Go Food. Bedanya, Bring Me Home tidak menyediakan jasa antar dan makan yang dijual terancam masuk ke tempat sampah – dibuang.

Banyak keragu-raguan yang hinggap di hati Jane saat memulai Bring Me Home. Jane merasa takut bahwa hanya ia sendiri yang punya kekhawatiran akan ‘limbah’ makanan ini. Namun, berkat dorongan salah satu perusahaan yang juga memiliki visi melawan pemborosan makanan, Too Good To Go, Jane mulai yakin untuk mulai go public di lingkungan kampusnya.

Jane mengenalkan aplikasi Bring Me Home di lingkungan kampusnya pada awal 2018. Ia mencetak beberapa kupon makanan – yang hampir dibuang karena sudah tidak layak jual di keesokan harinya. Di luar ekspektasi Jane, harga murah untuk makanan yang telah bermitra dengan Bring Me Home ternyata menarik perhatian. Setiap hari Jane mendapat permintaan kupon lebih dari 40 orang.

Pada awal uji coba, Jane berhasil menyelamatkan lebih dari 200 makanan yang terancam dibuang. Bahkan, setelah Bring Me Home dikenal di Universitas Melbourne, saat itu juga Jane mendapat perminataan dari Universitas lain agar Bring Me Home ada di Universitas mereka.

Fenomena ini nampaknya dapat diwujudkan di Indonesia. Tak perlu menunggu Bring Me Home sampai ke Indonesia, kini saatnya kamu yang melakukannya. Fakta menunjukkan bahwa saat ini Indonesia tengah menjadi negara penghasil limbah makanan nomor dua di dunia. Sampah ini merupakan kumpulan dari makanan sisa dan makanan layak makan yang tak bisa dijual oleh restoran dengan alasan kesegaran.

Dengan konsep yang bisa jadi mirip dengan Bring Me Home, nampaknya ini menjadi peluang bisnis besar. Terlebih industri makanan di Indonesia begitu menjamur, pasti akan ada banyak resto yang siap menjadi mitra dan menjual makanan – yang hampir terbuang karena alasan kesegaran – dengan harga miring.

Selain faktor penyelamatan lingkungan, harga yang lebih terjangkau juga pasti akan disukai masyarakat Indonesia. Selama makanan itu masih enak dan tak menyebabkan penyakit, kenapa tidak? Kita nampaknya masih menunggu sosok seperti Jane Kou di Indonesia. Kamu bisa?

 

Related


PERUBAHAN POLA KONSUMSI INFORMASI MASYARAKAT DI TENGAH WABAH COVID-19

Mewabahnya virus corona atau Covid-19 berimbas pada perubahan pola konsumsi informasi masyarakat. Bagaimana bisa?


LAKUKAN TIPS INI! ATASI DAMPAK CORONA DENGAN PASAR GO DIGITAL

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) akibat Covid-19 di sejumlah wilayah Indonesia membuat pedagang pasar harus memutar otak untuk memasarkan produk mereka. Omzet menurun, pedagang pasar terpaksa coba peruntungan di digital.


KOLABORASI GETI INCUBATOR & AEXI EXPORT HUB SEBAGAI RUMAH UKM-NYA INDONESIA

GeTI Incubator bersama AeXI Export Hub ingin mewujudkan UKM untuk naik kelas untuk menembus pasar internasional.


PERANGI COVID-19, WHO GAET MILLINNEAL LEWAT TIKTOK

World Health Organization (WHO) dikabarkan menggunakan beberapa media sosial untuk menyebarkan informasi akurat tentang Covid-19. Salah satu yang mereka gunakan baru-baru ini adalah TikTok untuk menggaet kaum millennial.


LANGKAH MUDAH LARISKAN BISNIS DENGAN EMOJI!

Mungkin sebelumnya emoji hanya ditemukan di ruang obrolan personal saja, kini emoji bisa digunakan sebagai strategi lariskan dengan bisnis. Simak langkah mudahnya


10 KIAT JITU MENAIKAN BRAND AWARENESS MELALUI TIKTOK

TikTok sebagai media promosi bisnis kamu, kenapa tidak dicoba? manfaatkan peluang aplikasi ini yang sedang fenomenal di masyarakat. Kami telah merangkumnya kiat jitu menaikan brand awareness melalui TikTok