Home > Articles

MENJADI EKSKLUSIF DALAM MENJALANI BISNIS ALA @MILINGE_LEATHER

Part #1



Brand @milinge_leather memproduksi tas kulit yang diukir dengan motif khas budaya Indonesia, khususnya Jawa.

Menjadi eksklusif tidak selamanya punya konotasi negatif. Apalagi dalam sebuah bisnis, terkadang menjadi eksklusif justru memunculkan daya pikat tersendiri. Terutama di era media sosial seperti saat ini, gelar eksklusif justru dicari-cari karena bisa menunjukkan kesan “enggak semua orang punya apa yang saya punya”.

Strategi eksklusifitas ini digunakan oleh salah satu brand tas kulit asal Yogyakarta, yaitu @milinge_leather. Bisnis yang awalnya fokus pada tas perempuan ini dapat menyentuh satu insight penting yang ada dalam diri perempuan: eksklusif / tidak ingin sama dengan orang lain.

Brand @milinge_leather memproduksi tas kulit yang diukir dengan motif khas budaya Indonesia, khususnya Jawa. Misalnya adalah ukiran bunga, batik, sampai wayang. Produksi tasnya pun tidak banyak, sehingga tas ala @milinge-leather ini benar-benar eksklusif apabila digunakan.

Proses produksi tas @milinge_leather juga tidak sembarangan. Ukiran motif yang ada pada kulit sapinya pun tidak menggunakan mesin. Namun, mereka menggunakan para seminan lokal yang menjadi mitra kerjanya.

Bagi Endro Pranowo, selaku pemilik brand @milinge_leather, ukiran motif yang dihasilkan dari tangan pengrajin akan jauh lebih bagus, rapi, dan ‘nyeni’ dibandingkan dengan dibuat melalui mesin.

Pemilihan motif hingga proses produksi inilah yang membuat tas kulit @milinge_leather tidak main-main dengan eksklusifitasnya. Tiap tas akan punya motif yang berbeda-beda, sehingga apabila ada satu orang yang membeli model A, maka dipastikan tidak akan ada tas lain dengan model yang sama.

Endro menjelaskan bahwa eksklusifitas ini juga bisa membuat penggunanya semakin percaya diri. Apalagi sistem produksinya hanya satu tas satu motif, ketika ada orang yang menggunakan tas motif Roro Mendut, maka bisa jadi tas itu hanya ada satu di dunia.

Startegi eksklusifitas ini berhasil membawa @milinge_leather mencapai kesuksesan luar biasa. Banyak sekali orang yang menunggu inovasi desain dan model tas dari @milinge-leather. Nampaknya, startegi ini juga benar-benar sesuai target, Endro mengatakan bahwa @milinge_leather memang kebanyakan digunakan oleh kaum perempuan.

Ada banyak sekali perempuan yang gemar berpose di media sosial dan ingin menjadi sosok eksklusif datang untuk membeli tas di @milinge_leather ini. Walaupun bernuansa jawa, motif dan model tas dari @milinge_leather tetap berkualitas internasional, loh! Kamu pokoknya akan bangga sekali ketika memakai tas @milinge_leather ini.

Jadi, menjadi eksklusif bukanlah hambatan bagi para pelaku bisnis, terutama di era media sosial seperti sekarang ini. Banyak orang yang berbondong-bondong mencari eksklusifitas hanya untuk tampil beda dari orang lain.

Related


INGIN PASANG IKLAN DI APLIKASI TIKTOK? INI DIA TIGA JENIS IKLAN YANG BISA KAMU GUNAKAN

Beberapa bulan lalu TokTok telah memunculkan versi beta untuk platform iklan di aplikasinya


THREAD TWITTER KKN DESA PENARI VIRAL? KAMU JUGA BISA BUAT UNTUK BISNIS ONLINE-MU!

Nampaknya membuat twit berseri atau sering dinamakan dengan threads tengah menjadi tren, terutama di Indonesia.


INI DIA TIGA APLIKASI EDITING VIDEO DI HANDPHONE YANG BISA BAWA KAMU JADI KONTEN KREATOR KEREN!

Untuk menciptakan sebuah video dengan kualitas baik, tentu kamu perlu ‘tools’ yang dapat mendukung proses pembuatannya.


KAMPANYE SELF-LOVE ALA @BIGISSIMO.ID YANG BERHASIL BAWA PEREMPUAN ‘XL’ LEBIH PERCAYA DIRI

Isu-isu sosial atau lingkungan bisa jadi merupakan salah satu inspirasi bisnis paling ‘mujarab’ agar mudah dikenal orang lain, terutama target audiensmu


MENTOK SAAT BIKIN VISUAL MARKETING INSTAGRAM? COBA EMPAT KONTEN INI!

Ada empat ide untuk konten visual marketing yang bisa kamu gunakan untuk keperluan konten marketing-mu di Instagram


MENJADI SEORANG KONTEN KREATOR: TEKANAN PRODUKSI HINGGA MULUT NETIZEN

Menjadi populer di media sosial memang tengah menjadi mimpi banyak orang di era digital ini. Bukan hanya menjadi ladang bersosialisasi, kini media sosial telah meng-iming-imingi penggunanya dengan uang dan popularitas